Category Eksplorasi Sumber Daya Alam

Ilustrasi Metode Eksplorasi Batubara

Metode Eksplorasi Batubara Menggunakan Pengeboran dan Cara Pengambilan Sampelnya

Salah satu metode eksplorasi batubara secara langsung adalah dengan pengeboran. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengetahui data geologi yang ada di bawah permukaan tanah atau subsurface. Sedangkan jika dilihat berdasarkan cara pengambilan sampelnya, Ada beberapa metoda lain yang digunakan, antara lain :

  1. Open Hole

Open Hole adalah metode eksplorasi batubara, dengan teknik pengeboran yang satu ini, akan melubangi suatu daerah tertentu, hingga mencapai kedalaman yang telah ditentukan sebelumnya. Kemudian proses pengambilan sampelnya, akan dilakukan dengan berdasarkan hasil potongan batuan, yang berasal dari gerusan mata bor per run, atau per pipa bot. Umumnya proses pengeboran tersebut akan dilakukan sekitar 1,5 meter, dan biasanya disebut dengan istilah cutting.

Cutting ini, yang nantinya akan dibawa naik ke atas, dengan media air, atau bercampur air / lumpur.  

  1. FullCore

FullCore adalah pemboran eksplorasi batubara berikutnya yang bisa dilakukan. Sama seperti sebelumnya, dimana pengeboran tersebut, akan dilakukan, hingga mencapai titik tertentu. Tujuannya juga untuk mengambil contoh / sampel, berupa inti / core batuan. Teknik ini dilakukan tanpa harus melakukan open hole.

Sampel batuan sendiri nantinya akan diambil dengan menggunakan pipa pengeboran, yang biasanya panjangnya sekitar 1,5 meter hingga 3 meter. Bisa juga panjangnya tergantung pipa yang digunakan.  

  1. TouchCore

Adapun touchCore adalah teknik eksplorasi batubara, lain yang juga dilakukan. Awalnya menggunakan teknik Open Hole, ketika bor telah menyentuh lapisan batubara yang sudah terindikasi (tentunya hal ini terjadi, setelah keluar samplecuttingbatubara, dan juga air pengeboran yang umumnya berwarna coklat kehitaman). Apabila sudah demikian, maka proses pemboran akan dihentikan. Selanjutnya, stang bor, akan diangkat, dan mata bor nantinya akan diganti, dengan menggunakan jenis mata bor, seperti yang digunakan pada fullcore.

Untuk kegiatan eksplorasi seperti ini, umumnya membutuhkan banyak sekali titik pengeboran. Teknik yang paling banyak digunakan adalah teknik open hole. Teknik ini banyak dipilih karena lebih murah dan hemat dari segi biaya. Selain itu, teknik ini juga terbilang lebih cepat, ketimbang teknik lainnya. Sedangkan untuk menentukan posisi kedalaman dan juga ketebalan lapisan batu bara, lebih tepat jika menggunakan metode eksplorasi batubara fullcore.

Ilustrasi eksplorasi

Jasa Workover dan Bedanya dengan Well Service

Istilah jasa Workover dan well service ini banyak dipakai dalam proses pengeboran minyak tanah. Kedua istilah itu bahkan sering disandingkan bersama sebagai Work Over dan Well Services yang disingkat menjadi WOWS.

Beda Workover dengan Well Service

Apa itu workover dan well service. Keduanya terkait dengan sumur bor minyak tanah, dan merupakan suatu kegiatan kerja yang dilakukan setelah suatu sumur bor minyak tanah selesai dibangun dan mulai beroperasi. Namun ada perbedaannya. Jika well service itu ialah perawatan atau pemeliharaan sumurnya. Dalam artian sumur minyak bumi tersebut telah tepat benar lokasinya dan potensi minyak buminya masih penuh, hanya saja ada kendala atau gangguan pada alat pengebornya atau pipa penyalur fluidnya, seperti akibat kotoran atau pecah kebocoran dan lain sebagainya sehingga perlu diperbaiki sebagai upaya perawatan dan pemeliharaan sumurnya. Sedangkan workover atau kerja daur ulang ialah lebih pada pembenahan lokasi sumur bor minyak tanahnya. Jadi yang bermasalah ialah sumurnya, bukan peralatan untuk mengebornya atau alat untuk mengalirkan hasil produksinya agar bisa naik ke atas permukaan tanah. Inilah letak perbedaannya.

Proses Pengeboran Sumur Minyak Bumi

Supaya jelas berikut ini perincian lebih lanjut, mengenai pengertian workover dan lain sebagainya. Fungsi pengoperasian sumur minyak bumi tujuannya ialah untuk mempertahankan tekanan dalam reservoir yang terdapat di bagian dalam formasi sumur injeksi, sehingga fluid atau cairan hasil minyak bumi bisa terangkat ke atas permukaan tanah. Nah setelah sumur minyak bumi selesai dibangun dan mulai beroperasi, menghasilkan produksi. Maka cepat ataupun lambat, sumur tersebut akan mengalami fase penurunan produksi atau decline. Adapun penyebabnya bisa beragam. Bisa jadi akibat problem mekanis peralatan yang ada di bagian dalam sumur atau dari reservoirnya, atau adanya kendala lainnya, dengan penyebab yang beragam, seperti akibat aus atau korosi atau terkisi dan lain sebagainya. Sehingga perlu upaya reparasi guna mempertahankan atau juga bisa untuk meningkatkan produksi dari sumur minyak bumi tersebut, agar bisa lancar kembali. Pekerjaan tersebut biasanya dilakukan oleh kontraktor WOWS atau ahli jasa perawatan sumur dan kerja ulang. Kontraktor ini biasanya memiliki peralatan yang portabel seperti rig dan lain sebagainya. Peralatan tersebut dirancang untuk pekerjaan khusus yang dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi agar sumurĀ  produksi bisa menghasilkan produksi sesuai target yang diharapkan. Sehingga lalu muncul istilah rig workover dan lain sebagainya. Jika peralatannya yang bermasalah maka pekerjaan itu disebut well service. Namun jika lokasi sumurnya yang bermasalah, yakni seperti ada kendala lapisan tanah yang menghalangi sehingga produksi menjadi kurang optimal atau sumber minyak buminya bergeser posisi dan lain sebagainya maka pekerjaan itu disebut sebagai workover atau upaya kerja daur ulang.

Wows lebih banyak disukai karena biayanya yang lebih rendah daripada biaya untuk pembuatan sumur baru.